Mutadi, S.Pd., M. Ed.
Pendahuluan
Pandangan teori transmission tentang “belajar” mengatakan bahwa ilmu pengetahuan
(knowledge) dapat ditransfer
dari guru atau buku teks ke siswa dengan menggunakan bahasa (means
of language). Transfer pengetahuan yang terjadi lebih diyakini
banyak tergantung pada peran guru (teacher-centered)
dan siswa cenderung bersifat pasif. Terkait dengan hal ini, para peneliti
banyak yang mempertanyakan keefektifan cara tersebut, bahkan lebih jauh
mengklaim cara ini tidak memberikan pemahaman yang sebenarnya (real understanding) pada diri siswa.
Disamping, cara ini juga tidak memberikan kemampuan pada siswa untuk melakukan
aplikasi terhadap pengetahuan yang dimilikinya (are not likely to lead to apply knowledge) dalam kehidupan
sehari-hari (Fraser, 2003, h. 1).
Beberapa tahun terakhir ini, para pengajar matematika dan ilmu pengetahuan
alam di seluruh dunia mulai memberikan perhatian yang cukup besar pada model
belajar/mengajar konstruktivis (constructivist
learning/teaching model) sebagai jawab terhadap permasalahan di
atas. Model belajar konstruktivis ini selanjutnya diharapkan mampu memberikan
suatu bentuk pembelajaran/pengajaran yang lebih memberikan penekanan pada aspek
pemahaman (promote learning with
understanding).
Esai
ini akan berfokus pada, pertama,
pengertian konstruktivisme. Kedua, akan mengetengahakan tentang
ciri-ciri pembelajran model konstruktivisme. Dan diakhiri dengan
kesimpulan.
Konstruktivisme
Steve Lerman (dikutip: Mousley and Tytler, 1998, h. 5)
berpendapat bahwa ahli psikologi Genewa -- Piaget -- dapat dikonsiderasikan
sebagai bapak konstruktivisme (The father
of constructivism). Dalam karyanya yang berjudul The Construction
of Reality in the Child (1937), Piaget mempublikasikan hasil
pengamatannya dalam pengajaran matematika dan ilmu pengetahuan alam. Pengamatan
yang dilakukannya lebih tertuju pada proses belajar (learning) ketimbang proses mengajar (teaching). Dari hasil pengamatan
tersebut, Piaget berkesimpulan bahwa: “learning
as personal knowledge construction, particularly in relation to science and
mathematics” (belajar adalah proses konstruksi pengetahuan secara
individual, terutama dalam ilmu pengetahuan alam dan Matematika).
Kelas berbasis kostruktivis (classroom based on constructivist)
Dalam pengajaran matematika, gambaran kelas yang berbasis
kostruktivis (the features of classroom
based on constructivist principles) menurut Cobb, Yackel dan Wood
(dikutip: Mousley, 1993 , h. 326) adalah memiliki ciri-ciri
sebagai berikut: Pertama, siswa
aktif berpartisipasi dalam belajarnya, mengkonstruksi pengetahuan melalui cara
pemahaman mereka sendiri (their ways of
knowing). Kedua, siswa belajar berdasarkan pada
pengalaman. Proses belajar terjadi ketika gagasan atau pengalaman yang ada
diotaknya tertantang atau teradu (challenged)
oleh pengalaman yang tengah dilakukannya. Dan konsep baru (new concepts) terbentuk dari hasil
memasukkan kembali (restore)
pengalaman yang baru ke dalam pengalaman atau gagasan lamanya.
Sementara menurut Mousley, Groves, and Begg (1998, h. 69) ciri pengajaran
matematika yang berbasis konstruktivis adalah:
“Children are not passive recipients of knowledge;
they interpret it, put structure into it and assimilate it in the light of
their own mental framework. This means that the use of concrete materials in
hands-on activities is not the only type of activity that is required for vthe
development of mathematics concepts --- the focus of constructivism is
mathematical activity”.
Pendapat lain, sebagaimana yang dikemukakan oleh Crawford dan Witte
(1999, h. 34) bahwa kata yang menggambarkan kelas matematika konstruktivis
adalah “energi”. Siswa membawa
energi yang sangat besar (tremendous
energy). Guru dalam kelas konstruktivis mengarahkan energi ini
dengan cara melibatkan siswa ke dalam proses belajar yang aktif. Kondisikan
murid untuk belajar dengan melakukan (hands-on
activities) ketimbang hanya
belajar lewat mendengarkan dari gurunya. Dorong mereka untuk berdiskusi
dan bekerja dalam grup kecil (small group)
dalam menemukan solusinya dan mereformulasikan konsep matematika mereka
sendiri, ketimbang hanya mempraktekan rumus matematika sendirian.
Masih terkait dengan kelas berbasis konstruktivis, selanjutnya, Brooks
(1999, h. 22) menyarankan bahwa mengorganisasi kelas konstruktivis adalah
sebuah pekerjaan yang sulit bagi guru. Hal tersebut memerlukan kecermatan
berfikir (rigorous intellectual),
komitmen dan kerja keras. Seorang guru konstruktivis mengenali bahwa muridnya
telah memiliki pengalaman masa lalu (prior
experience). Sangat penting bagi guru konstruktivis untuk
menghubungkan (connect) materi
pelajaran dengan pengalaman masa lalu tersebut. Sehingga hal yang paling
mendasar di sini adalah terletak pada pengalaman siswa (learner’s experience) itu sendiri,
bukan pada rencana guru (teacher’s
planning). Oleh karena itu sungguh akan menjadi sebuah pengajaran
yang kontra produktif (educatinally
contaproductive) apabila mengabaikan anggapan (suppositions) dan cara pandang (point of views) siswa.
Untuk mewujudkan pandangan tersebut,
Lovitt dan Clarke (1988, h. 5) menyarankan perlunya
dilakukan reshaping current practice yang diperkaya dengan sejumlah pendekatan
pengajaran baru (new practical approaches). Berikut merupakan alternatif reshaping current practice yang
diharapkan dapat menjawab pandangan kelas berbasis konstruktivis tersebut.

·Problem solving and modelling
· Teaching and learning in context
·Social issues ·Mental
·Writing maths arithmetic
·Visual
imagery CURRENT
PRACTICE ·Video
·Non-threatening
learning environment · Applications
learning environment · Applications
·Estimation
·Cooperative learning ·Calculator
·Information Technology in
Maths
·Classroom action research
Peran guru (the
role of teacher)
Praktek pengajaran kelas konstructivis banyak bergantung pada peran
guru itu sendiri (classroom teacher’s
autonomous), proses pembelajarannya, dan pengambilan keputusan yang
profesional (professional judgment).
Kritik yang sangat mendasar yang dilontarkan oleh Brooks and Brooks (1999,
h. 21) khususnya terhadap peran guru ini adalah: “as teachers we have great control what we teach, but far less control
over what students learn”. Ole karena itu perlu diformulasikan
sejumlah peran guru (the role of teacher)
yang diarahkan agar guru memiliki control
over what students. Berikut
adalah sejumlah peran guru konstruktivis (Brooks and Brooks, 1999, h. 21) yang
diharapkan mampu menjawab kritik tersebut.
1.
Constructivist teachers seek and value students’
point of view. Knowing what students think about concepts. It will helps
teacher to formulate classroom lessons and differentiate instruction on the
basis of students’ needs and interests. (Guru konstruktivis mencari dan menghargai
pengalaman siswanya. Mengetahui bagaimana siswanya berfikir tentang konsep. Hal
itu akan membantu guru untuk merumuskan pelajaran dan menggunakan tehnik pengajaran yang berbeda
sesuai dengan kebutuhan dan keinginan siswanya.)
2.
Constructivist teachers structure lesson to
challenge students’ suppositions. All students come to the classroom with life
experiences that shape their views about how their worlds work. Teachers permit
students to construct knowledge that challenges their current suppositions,
learning occurs. (Guru
konstruktivis menyusun pelajarannya untuk menantang anggapan atau pandangan
siswanya. Semua siswa datang ke kelas dengan membawa pengalaman hidupnya dan
pengalaman hidupnya itu akan mempengaruhi cara berfikirnya)
3. Constructivist
teachers recognize that students must attach relevance to the curriculum. As
students see relevance in their daily activities, their interest in learning
grows. (Guru konstruktivis tahu bahwa siswanya
perlu memadukan pengalaman hidupnya dengan kurikulum. Sebagai murid juga
memahami bahwa yang ia pelajari ada relevansinya dengan kehidupannya
sehari-hari, sehingga minat belajarnya tumbuh.)
4.
Constructivist teachers assess student learning
in the context of daily classroom investigations, not as separate events.
Students demonstrate their knowledge every day in a variety of ways. (Guru konstruktivis membawa murid belajar dalam konteks, bukan
menyajikani sesuatu yang asing dalam kehidupannya. Murid mendemonstrasikan
pengetahuannya dalam berbagi cara yang berbeda.).
Masih sejalan dengan peran guru konstruktivis Cobb (1998,
h. 7) menambahkan bahwa: “the teacher’s role is typically characterized as that
of facilitating students’ investigation and exploration”. (Peran guru adalah memfasilitasi penelitian dan penjelajahan
siswanya).
Kesimpulan
Ada tiga hal penting yang dapat
ditarik dari pandangan konstruktivisme dalam pembelajaran matematika. Pertama, pembelajaran konstruktivis ini
lebih menekankan pada aspek pembelajaran yang memberikan pemahaman yang
sebenarnya (real understanding)
pada siswa melalui aktivitas matematika (mathematics
activities). Kedua,
pembelajaran konstruktivis ini, juga, diharapkan mampu mendorong siswa untuk
memiliki keahlian (skills)
aplikasi pengetahuannya (lead to apply
knowledge) dalam kehidupan sehari-hari. Terakhir, guru konstruktivis mencari dan menghargai
pengalaman awal siswa (students’ prior knowledge) guna mendesain
pembelajarannya.
DAFTAR PUSTAKA
Brooks, M. G., dan Brooks, J. G., 1999, ‘The Courage Constructivist’,
di Association for Supervision and Curriculum Development, The Constructivist Classroom: Educational
Leadership, Deakin University Library, Melbourne, Volume 5 no. 3
November 1999, hal. 18-24.
Cobb, P., 1998, ‘Constructivism in Mathematics and Science Education’,
di Deakin University, Constructivism and
Learning in Science and Mathematics (Reader), Deakin University,
Geelong-Victoria, hal. 7.
Crawford, M., dan Witte, M., 1999, ‘Strategies for Mathematics:
Teaching in Context’, di Association for Supervision and Curriculum
Development, The Constructivist
Classroom: Educational Leadership, Deakin University Library,
Melbourne, Volume 5 no. 3 November 1999, hal. 34-38.
Fraser, J. B., 1995, Constructivism
(Paper presented at science and mathematics seminar, Institute of Teacher Training and Education
[IKIP] Jakarta, November 29-30, 1995), IKIP Jakarta, Jakarta.
Lovitt, C., dan Clarke, D., 1988, Mathematics
Curriculum and Teaching Program: Professional Development Package
(Activity Bank Volume 1), Curriculum Development Centre, Canberra.
Mousley, J., dan Tytler, R.,
1998, ‘Constructivist Views of Learning’, di Deakin University, Constructivism and Learning in Science and
Mathematics (Study Guide), Deakin University, Geelong-Victoria, hal.
1-11.
Mousley, J. A., 1993, ‘Constructivism: A New Way of Teaching
Mathematics’, di Judith, M. Dan Marry, R., Mathematics:
Of Primary Importance, The Mathematical Association of Victoria for
the Thirtieth Annual Conference, December 2-3, 1993, Brunswick, Victoria, hal.
326-327.
Mousley, J., Groves, S., dan Begg, A., 1998, ‘Constructivism in
Mathematics Education’, di Deakin University, Constructivism and Learning in Science and Mathematics (Study
Guide), Deakin University, Geelong-Victoria, hal. 69-104.



0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !